Tradisi Lebaran di Kampung Halaman | SMP Negeri 13 Bogor
  • SMP NEGERI 13 BOGOR
  • Cerdas, Higienis, Enerjik, Responsif, Inovatif, Adaftif

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Anies Piliang itu nama panggilanku. Kalau dilihat sekilas pasti banyak yang tahu, aku berasal dari Sumatra Barat. Piliang itu salah satu suku yang terkenal di Sumbar. Jangan salah ya! Kalau di Sunda suku itu berarti kaki, jauh sekali ya bedanya. Ya, itulah Indonesia. Penuh dengan keberagaman. Unik, bahasa, suku, maupun budayanya.

Siapa yang tidak kenal dengan Sumatra Barat? Saya yakin banyak yang mengenal bahkan mungkin sudah pernah berkunjung ke sini. Selain terkenal dengan daerah wisata yang memesona, elok sedap dipandang mata, Sumbar juga dikenal dengan kulinernya yang aduhai. Kuliner beraneka ragam bentuk dan rasa menggoda setiap pengunjung yang datang.

Heeemm... rendang yang menggoyang lidah, memanjakan selera masyarakat tidak hanya Indonesia bahkan sudah mendunia. Percaya atau tidak? Ayo silakan mengecek sendiri.

Walau akau berasal dari Sumatra Barat, tetapi lebih dari separuh usiaku telah aku habiskan di Tanah Sunda tepatnya Kota Bogor, Jawa Barat. Kata orang-orang, air Bogor itu manis (memangnya teh atau kopi campur gula 3 sendok), bila sudah minum air Bogor akan ketagihan atau bikin betah berlama-lama di Kota Bogor (tak mau pulang, tak mau pulang).

Aku terombang-ambing di Tanah Sunda ini sudah 27 tahun lamanya. Namun, tidak pernah terbersit di hati untuk melupakan kebiasaan atau tradisi cinta kampung halaman. Apalagi saat-saat terindah, yaitu mudik. Pulang kampung ketika lebaran tiba itu sesuatu. Alhamdulillah, Allah berikan rezeki untuk bisa mudik menengok kampuang halaman nan jauh di mato dakek di hati.

Hampir setiap tahun. Mudik sudah menjadi tradisi bagi  para perantau. Meskipun kondisi keuangan morat-marit, mudik tetap menjadi moment terindah, tidak bisa dibahasakan. Karena kebahagian itu bukanlah diukur dengan uang atau materi. Berkumpul bersama, menjalin tali silaturahmi itulah kebahagiaan yang hakiki. Bila sudah berkumpul dengan keluarga jadi lupa semuanya. Utang telur 2 kilo di Warung mas Yogi abaikan dulu. Administrasi sekolah yang harus dikumpulkan sebelum tahun ajaran baru abaikan dulu, serta tetek bengek yang lai lupakan dulu.

Tiba di kampung halaman disambut dengan tangis mengharu biru. Salam takzim dan pelukan hangat penuh cinta kasih dari seluruh saudara serta sanak famili. Berpelukan mesra menggambarkan rasa suka cita yang dalam. Tidak hanya itu, segala menu khas kampung sudah menunggu untuk disantap. Heemm..seperti musafir yang mendapat air di gurun pasir.

Malam takbiran pun tiba. Suasana malam ini tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain. Ada takbir keliling sampai pagi. Dulu dimeriahkan dengan dentuman meriam yang terbuat dari bambu. Seiring berjalannya waktu kebiasaan itu pun memudar bahkan sudah jarang ditemukan. Sekarang tergantikan oleh indahnya petasan dan kemeriahan kembang api. Meski dilarang, ada saja warga yang sembunyi-sembunyi menjual demi meraup keuntungan. Mumpung lebaran, mumpung banyak orang rantau yang pulang, mumpung, mumpung, dan mumpung lagi.

Ada lagi yang berbeda dengan kebiasaan di Bogor, mungkin juga daerah lainnya. Kalau di Bogor pukul 07.00 sudah selesai shalat Ied. Kebiasaan di kampung, sebelum shalat  Ied ada pengumpulan infak. Nah, para pemuka negeri yang ditunjuk sebagai pemimpin pengumpulan infak dengan piawai akan mampu mengocek isi dompet jamaah sehingga keluar sampai kekerak-keraknya. Kadang ada batas infak yang diinginkan. Bila belum mencapai target, kembali kota infak diedarkan, masih kurang diputar lagi. Alih-alih selesai shalat Ied pukul 10.00.

Setelah sholat ied selesai, para saudara datang berkunjung. Serta tidak ketinggalan tetangga terdekat. Saling bersalaman, mohon maaf lahir dan batin, kembali fitri bersih, suci dari noda. Tamu yang datang tidak hanya disuguhkan kue atau cemilan lainnya. Melainkan diwajibkan untuk makan walau hanya sesuap atau dua suap. Mengunjungi 5 rumah bisa jadi 5 kali makan, perut bak buntalan Malin menuju rantau. Demi menghargai tuan rumah. Menu setiap rumah itu hampir sama. Rendang sudah pasti ada (ciri khas), Asam padeh yang tak kalah lezat, lamang tapai, galamai (dodol), kubang merah dan putih, dll. Kadang ketupat juga ikut menghiasi suasana lebaran.

Sepulangnya, anak-anak dibekali dengan angpao. Betapa senang dan bahagianya raut-raut wajah mereka. (Kalau di kampung sering juga disebut menambang) mencari rezeki dari pintu ke pintu.

Pulang bertamu Si Ibu bertanya, Nak, berapa hasil nambang kamu hari ini?” “Alhamduliiilah, banyak Bu! Nanti belikan Adek hp keluaran terbaru ya Bu, Hp yang ada game mobile lengend, kan lagi viral” celetuk Si anak tanpa titik dan koma. Aduh! Si Ibu nepok jidat spontan.

Ada kebiasaan pasangan suami istri yang baru menikah disebut manjalang mintuo. Manjalang mintuo ini sebuah tradisi membawa hantaran makanan, lauk, serta cemilan ke rumah mertua. Hantaran ini disusun dalam sebuah dulang, dibungkus dengan taplak meja segi empat kemudian di atasnya ditutupi dengan delamak (delamak: kain penutup tudung saji yang bersulam benang emas). Pasangan suami istri yang sudah lama menikah tetap melakukan kebiasaan ini tetapi auranya tidak sama seperti pengantin baru. Kadang hanya membawa hantaran sekadarnya dan hanya menggunakan rantang. Intinya silaturahmi

Semoga tradisi-tradisi ini tetap bertahan dan lestari sepanjang masa. Karena perbedaanlah yang membuat kita bersatu padu dalam negeri yang satu Indonesia.

Tulisan Lainnya
Pagi di Ciwidey

Rencana liburan kali ini ingin mudik ke kampung halaman. Aku sampaikan hal ini kepada anak bujangku. "Nak, liburan ke kampung aja ya?"tanyaku dengan antusias. "Pulangnya naik apa Bu?" b

15/01/2020 21:57 WIB - Mardianis
Pelaksanaan Try Out di SMPN 13 Bogor

Try out adalah bentuk ujian sebagai uji coba yang diberikan kepada peserta didik. Try out yang diberikan kepada peserta didik sangar penting artinya bagi semua pihak yang terkait denga

28/10/2019 09:53 WIB - Reni Supriati
PTS dengan Android

Senin, 16 September 2019. Sekolah kami melaksanakan Penilaian Tengah Semester (PTS) ganjil. Ada Sedikit perbedaan dengan tahun sebelumnya. Khususnya untuk kelas 9, PTS menggunakan HP an

16/09/2019 11:59 WIB - Mardianis
Masjid Baru

Alhamdulillah, pagi ini 6 September 2019 kami guru-guru beserta siswa SMP Negeri 13 Kota Bogor sudah bisa kultum di Masjid An-Nur. Masjid sekolah yang pembangunannya penuh perjuangan lu

06/09/2019 16:43 WIB - Mardianis
Melatih Disiplin dengan LTUB

Seminggu terakhir ini KBM kurang kondusif. Hal ini disebabkan karena sebagian besar siswa terlibat sebagai peserta lomba tata upacara bendera (LTUB). Hanya tersisa beberapa siswa di dal

15/08/2019 09:10 WIB - Mardianis
Krisis Moral, Akhlak, dan Etika

Dasyatnya perkembangan dan kemajuan teknologi, memberi pengaruh besar terhadap perkembangan moral, akhlak, dan etika di kalangan masyarakat. Memang kemajuan tersebut memiliki manfaat ya

29/07/2019 07:15 WIB - Mardianis
Soni Farid Maulana – SONIAN

Sonian adalah bentuk puisi baru sepanjang empat larik dalam sastra Indonesia modern dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik. Bentuk baru ini dikreasi oleh penyair Soni Farid Maulana. Dal

27/07/2019 22:59 WIB - Mardianis
Muhasabah dan ESQ

Pagi Jumat tanggal 15 Maret 2019, Kegiatan siswa kelas 9 diawali dengan salat dhuha bersama, kemudian dilanjutkan dengan muhasabah yang dipimpin langsung oleh ustad Markoni selaku guru

20/03/2019 15:00 WIB - Mardianis
Bulan Promosi

Gelak tawa, canda ria, serta senyum kebahagiaan tersungging di bibir anak-anak kelas 9 pagi menjelamg siang Rabu, 13 Maret 2019. Mengapa semyum mereka lepas. Yeach, jelas saja, hari ini

15/03/2019 14:35 WIB - Mardianis
Demam Game PUBG

Hampir setiap hari sepulang sekolah kulihat anakku hanyut dengan hp di tangan. Apalagi kalau hari libur, sejak bangun tidur langsung memegang hp sampai beberapa jam kemudian. Sebagai or

12/03/2019 14:20 WIB - Mardianis